Dawet Jabung


Satu – satunya minuman Khas Ponorogo yang benar – benar menggiurkan. Minuman ini terdiri dari Cendol putih, Juruh (Air Gula), dan santan kelapa.

saya rasa kurang pass jika ke Ponorogo tidak mampir untuk mencicipi minuman segar ini.

Ada mitos tersendiri dalam minuman ini.
Dawet jabung ini di tempatkan di mangkuk kecil.
Dan penjualnya memberikan mangkuk berisi dawet ini memakai tatakan (Lepek).Tetapi para pembeli tidak boleh mengambil minuman ini sekaligus tatakannya. Dalam artian hanya boleh mengambil mangkuknya saja.

Dengar – Dengar mitos jika diambil sekaligus tatakannya maka penjual dawet akan ngikut pembeli tersebut dan harus menjadikannya istri. lalu bagaimana jika pembelinya wanita????”Saya jaga tidak tahu.He…”

Salam Kuliner PONOROGO

Iklan

Air Terjun Plethuk


Keindahan alam di desa kecil ini sangat luar biasa.
Benar benar masih alami. Air Terjunnyapun tak kalah indah dengan Air Terjun di tempat – tempat lain. Sungguh indah dan menakjubkan.

Wisata ini terletak di kecamatan Sooko.
Selain sebagai objek wisata, di plethuk ini juga sering di pakai untuk penjelajahan anak – anak pecinta alam ataupun anak- anak pramuka. Selain karena keindahan alamnya banyak sekali yang bisa kita pelajari dan renungkan di sini.

Bagi anda Para Pecinta Alam silahkan kunjungi wisata Air Terjun Plethuk yang berada di Antara Pegunungan Sooko ini.

Salam Pariwisata Ponorogo.

Telaga Ngebel


Telaga ngebel bisa dibilang masih benar – benar perawan.
Belum tersentuh oleh apapun.
Udaranya begitu sejuk dan banyak sekali buah – buahan alami di sana.
Diantaranya Durian, Pundung, Duku, Rambutan dll.
Selain itu di telaga ngebel ini terkenal dengan makanan Nila bakar.
Sungguh menambah kenikmatan tersendiri menyantap Nila Bakar di Pinggir telaga ditemani hembusan angin yang begitu menyejukkan hati.

Telaga Ngebel ibarat tambang emas yang menunggu sentuhan investor, sehingga dapat bersolek dan menjadi ikon kedua di Kabupaten Ponorogo setelah kesenian Reog. Obyek wisata ini layak untuk dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari.

Konon cerita yang berkembang di masyarakat, Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama “Baru Klinting”. Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel.

Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon salah seorang pendiri Kabupaten ini yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

Buat Jalan Tembus

Bupati Ponorogo Muhadi Sujono mengakui Telaga Ngebel memang cukup potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata sekaligus sebagai penopang ekonomi masyarakat maupun daerah kabupaten itu sendiri. Namun satu hal yang menjadi kendala aset menuju ke obyek ini baru bisa ditempuh melalui satu jalur, sehingga membuat para investor enggan melirik atau menanamkan modalnya untuk membangun obyek wisata pendukung (sport tourism) di telaga ini.

Dalam waktu dekat, Kabupaten Ponorogo akan bekerja sama dengan kabupaten Madiun dan Nganjuk untuk membuat jalan tembus menuju ke Telaga Ngebel. “Saya akan mengusulkan rencana proyek ini ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar dapat segera terealisasi,” kata Muhadi Sujono. Dia yakin dengan adanya beberapa alternatif jalan menuju obyek wisata Telaga Ngebel, tidak menutup kemungkinan investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya disini.

Kabupaten Ponorogo, cukup kaya akan potensi pariwisatanya, baik wisata budaya maupun wisata alam. Salah satunya event nasional yang berakar dari tradisi masyarakat, yaitu Grebeg Suro yang biasanya digelar pada Festival Reog Nasional. Kegiatan ini dikemas secara matang sehingga cukup layak jual di pasar Wisata internasional. Event Grebeg Suro telah menjadi kalender wisata nasional, dan cukup menarik bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung di kota kecil di Jawa Timur ini.

Sedangkan kesenian reog sudah menjadi identitas bagi kabupaten Ponorogo. Oleh karenanya kabupaten ini disebut juga dengan Kota Reog. Pentas seni reog sudah dikenal luas di Indonesia bahkan mancanegara. Di setiap sudut kota dapat dijumpai miniatur-miniatur reog.

Tips Perjalanan

0byek wisata Telaga Ngebel terletak sekitar 24 km kearah timur laut dari pusat kota Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, tepatnya berada di Gunung Wilis dengan ketinggian 750 meter diatas permukaan laut, dengan suhu sekitar 22 derajad celcius. Luas permukaan telaga 15 km dengan dikelilingi jalan sepanjang 5 km. Panoramanya sangat indah dan menakjubkan. Udaranya sejuk dan kondisi alamnya masih asri.

Di Telaga Ngebel setiap satu tahun sekali diselenggarakan ritual budaya berupa Larungan Sesaji pada tahun baru Hijriyah/Tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro.

Sumber: Majalah Travel Club

Salam Pariwisata PONOROGO

Reyog Ponorogo


Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan

Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

(Dikutip dari bernagai macam sumber)

Pecut Samandiman


Untuk jelasnya berikut ini adalah cerita dibalik adanya Reog Ponorogo

“Kesenian ini berawal dari legenda masyarakat Ponorogo tentang singa jadi – jadian yang bermahkotakan burung merak. Dikisahkan di Kerajaan Bantarangin yang kala itu tampuk pimpinan dipegang oleh Raja Muda yang gagah, tampan dan terkenal sakti mandraguna, yang memimpin dengan arif Bijaksana, dialah Prabu Klana Sewandana. Melalui Patih Pujangga Anom, Klana Sewandana ingin meminang Dewi Songgolangit Putri Kerajaan Kediri.

Meski berwajah buruk namun Pujonggo Anom adalah seorang Patih yang sakti, luhur budi, banyak akal, cekatan, gesit, dan lucu. Prabu Singo Barong dari Lodaya-pun ingin meminang Putri Kediri yang terkenal cantik jelita itu. Untuk menolak halus lamaran kedua Raja, Dewi Songgolangit meminta syarat diberikan tontonan yang belum pernah ada, 144 ekor dengan pasukan berkuda dan binatang berkepala dua yang pandai menari. Mengetahui Prabu Klono Sewandono dapat memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit, Prabu Singo Barong ingin merebutnya, terjadilah perang. Prabu Klana Sewandana luka parah dan mukanya ditutup dengan topeng Kencana. Karena pertempuran yang cukup hebat, muka Prabu Klono Sewandana pun rusak dan dengan menggunakan topeng Kencana akhirnya mukanya berangsur2 pulih kembali. Akhirnya Singo Barong lumpuh dan bertekuk lutut dengan sabetan “PECUT SAMANDIMAN” dari Prabu Klono Sewandana. PECUT SAMANDIMAN dan topeng Kencana diperoleh dari pertapaan Prabu Klono Sewandana setelah adiknya kalah dari Singo Barong.

Persyaratan yang diajukan oleh Putri Sangglangitpun dapat dipenuhi dengan menciptakan reog ponorogo yang berdasarkan pertempuran tadi dan binatang berkepala dua-pun diambil dari kepala Singa Barong. ”


Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran yang maknanya bahwa sang Raja (kepala harimau) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (burung merak).”

Biasanya satu group dalam pertunjukan Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya.

Tulisan Reog sendiri asalnya dari Reyog, yang huruf-hurufnya mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: rasa kidung/ingwang sukma adiluhung/Yang Widhi/olah kridaning Gusti/gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa.

Penggantian Reyog menjadi Reog-yang disebutkan untuk “kepentingan pembangunan”- saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo Markum Singodimejo yang mencetuskan nama Reog (Resik, Endah, Omber, Girang gemirang) tetap mempertahankannya sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo.

Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barulah barongan atau dadak merak di bagian akhir. Ketika salah satu unsur di atas sedang beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol.

Jadi Intinya Pecut Samandiman Ini adalah Pecut Sakti <a href="Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.

Adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. Sedangkan Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor. Keliatan banget kalo ceritanya dibuat-buat deh.. “>Prabu Kelono Sewandono yang dapat mengalahkan Singo barong.

(Dikutip dari Berbagai macam sumber)

Kelono Sewandono



Bentuk perbantahan tipikal semacam itu menegaskan bahwa sebenarnya kisah-kisah asal-usul reyog Ponorogo tersebut merupakan tradisi tutur atau verbal arts.
Seperti dikemukakan Richard Bauman (1977), tradisi lisan sebenarnya kurang menilai penting ‘kebenaran’ hal yang dinyatakan lewat penuturan.

Bobot pernyataan tidak dinilai berdasarkan kebenaran yang diukur dari kesesuaian antara yang dikatakan dengan bukti-bukti empiris.Dengan kata lain, unsur penutur dan cara penuturannya menjadi lebih penting daripada kebenaran empirik pernyataannya.

Oleh karenanya, permasalahan yang berkembang mengenai kisah asal-usul Reyog Ponorogo dapat dipahami sebagai persoalan pengalihan dari wacana lesan menjadi tulisan.
Pengalihan tersebut membawa serta pergeseran dari ‘kebenaran’ diskursif yang dinamis menuju ‘kebenaran’ tekstual yang statis.
Format pertunjukan yang disusun tim kerja bentukan pemerintah Kabupaten Ponorogo disusun berdasarkan kisah tentang Kelana Sewandana yang muncul baik dalam versi Bantarangin maupun dalam versi Batara Katong.

Salah satu bentuk ‘pembakuan’ yang problematis adalah kehadiran tokoh Kelana Sewandana sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pertunjukan Reyog Ponorogo. Pertunjukan reyog di desa-desa seringkali tidak menampilkan peran Kelana Sewandana, bahkan banyak kelompok reyog di wilayah Kabupaten Ponorogo tidak memiliki pemain pemeran tokoh ini.

Hasil wawancara dengan sejumlah praktisi kesenian rakyat ini mengesankan bahwa sebenarnya bagi kebanyakan kelompok reyog setempat kehadiran Kelana Sewandana bukan keharusan.
Seorang mantan aktivis reyog di desa Sawoo berusia sekitar 70 tahun menuturkan bahwa pada tahun 1950-an kelompoknya kadang-kadang menampilkan Kelana Sewandana.
Dituturkan pula bahwa pemeran Kelana Sewandana desa tersebut sering menyisipkan tembang jenis palaran dalam pementasan.
Namun, ketika pemeran tersebut meninggal dunia, cukup lama kelompok reyog desa Sawoo tersebut tidak menampilkan peran raja Bantarangin tersebut.
Baru pada akhir tahun 1990-an, setelah di desa Sawoo ada seorang pemuda yang menempuh pendidikan tari di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, Surabaya, maka kelompok reyog desa tersebut memiliki pemeran Kelana Sewandana lagi.
Kelangkaan pemeran tokoh Kelana Sewandana merupakan hal yang lumrah dalam lingkungan kelompok reyog desa di Ponorogo.
Langkanya pemeran Kelana Sewandana sering dijelaskan sebagai akibat dari tuntutan teknis tari yang tinggi bagi pemeran tokoh ini.
Asumsi semacam ini diperkuat oleh kenyataan bahwa sebagian besar pemeran Kelana Sewandana yang ada di wilayah Kabupaten Ponorogo adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan tari; baik di pendidikan formal maupun di sanggar-sanggar tari di dalam atau luar kabupaten.
Dewasa ini, meskipun terdapat semakin banyak orang yang dapat memerankan Kelana Sewandana, kemunculan tokoh raja Bantarangin ini dalam pertunjukan di desa-desa pun masih relatif jarang.
Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya kecenderungan penari pemeran Kelana Sewandana hanya muncul secara terbatas pada acara-acara tanggapan yang bersifat formal, misalnya pada acara perkawinan.
Pada acara-acara yang bersifat komunal dan kurang formal, misalnya bersih desa atau kaulan nadar, umumnya tokoh raja Bantarangin ini tidak ditampilkan.
Prabu Kelono Sewandono dikenal memiliki pecut yang sakti mandraguna yaitu Pecut Samandiman.

(Dikutip Dari Berbagai Sumber)

Sejarah Reyog Ponorogo


Legenda Reyog


Tidak hanya satu versi yang diceritakan asal muasal kesenian Reog Ponorogo.
Sebuah buku terbitan Pemda Kabupaten Ponorogo pada tahun 1993 menyebutkan, sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit. Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Kutu Suryo.

Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada zaman kekuasaan Batera Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan. Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono.

Kesenian Reog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa.
Masuknya Raden Patah, Raja Kerajaan Demak, untuk mengembangkan agama Islam di sekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian reoglagi nge blog mas
ini.

Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini. Biar bagaimanapun cerita yang menyebutkan asal usul Reog Ponorogo bersumber yang jelas. Kini kesenian ini tidak hanya dijumpai di daerah kelahirannya saja, Ponorogo.

Biasanya satu group Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya.

Kedasyatan Reog Ponorogo dalam mengumpulkan dan mengerakkan massa sempat membuat sertifikat sebuah organisasi sosial politik sejak tahun 1950-an untuk mendomplengnya sebagai alat. Sehingga Reog Ponorogo dalam perkembangannya nyaris tiba di jurang kematian.


Beruntung di akhir 1976, Reog Ponorogo kembali dihidupkan dengan pendirian INTI (Insan Tagwa Illahi Ponorogo). Belajar dari sejarah ini, banyak pelaku seni ini yang tidak ingin lagi ditunggangi. Biarlah reog menjadi milik rakyat tanpa batasan dan diklaim milik golongan tertentu. Reog Ponorogo terus berkibar hingga sekarang. (swo/berbagai sumber)